Saturday, April 26, 2014

Membangun Masyarakat Shalih



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mungkin kita pernah mendengar tentang kejayaan islam yang dulu pernah menguasai dunia di dalam sejarah, apa yang menjadi kekuatan saat itu sehingga islam mampu menguasai dunia, salah satu dari kekuatannya adalah persaudaran.
Dalam ajaran islam persudaraan sangatlah penting, banyak sekali pengarauh yang di timbulkan dari persaudaraan ini, mungkin salah satunya adalah membentuk suatu lingkungan masyarakat yang aman, yaman serta damai di dalam kehidupan, dengan demikian, jika sudah terbentuk suatu lingkungan serperti itu, maka akan timbul rasa kasih sayang di antara individu-individunya sehingga akan terbentuk suatu persatuan yang sangat kokoh, maka inilah salah satu kekuatan kejayaan islam.
Bagaimana untuk menghidupkan kembali kekuatan tersebut di jaman sekarang, karena sudah sangat jarang sekali nilai-nilai persaudaraan di jaman sekarang ini, apalagi untuk bersatu atas dasar kasih sayang sangat sangatlah sulit.
1.2  Rumusan Masalah
Pertanyaan dasar yang merupakan perumusah masalah dari penulisan makalah ini yaitu :
a.       Bagaimana cara membangun masyarakat yang salih ?
b.      Bagaimana tanda-tanda dari masyarakat salih itu ?

1.3  Tujuan Makalah
Dalam setiap penulisan makalah, tentu mempunyai tujuan yang hendak di capai, yaitu kami sebagai penyusun dapat mengenal lebih jauh mengenai :
1.  Cara membangun masyarakat yang salih serta
2.  Mengetahui tanda-tanda dari masyarakat yang salih itu

1.4  Metode Penulisan
Penyusunan makalah ini menggunkan metode :
Metode studi pustaka yaitu metode penulisan yang di pergunakan dalam penelitian perpustakaan murni dengan mengumpulkan data-data dari bahan pustaka yang relevan dengan bahan penelitian.

1.5  Manfaat Penulisan
Kami menyususn makalah ini dengan judul ” Membangun Masyarakat Yang Salih “ memilki manfaat di antaranya bagi penulis dan pembaca pada umunya.

1.6  Sistem matika penulisan
Sistem matika penulisan makalah ini terdiri dari 4 BAB seperti di bawah ini :
BAB I yaitu : Pendahuluan yang meliputi latar belakang, perumusan masalah,
 Tujuan makalah, Metode penulisan, Manfaat penulisan dan System matika penulisan.
BAB II yaitu : Landasan teori yang meliputi definisi masyarakat dan definisi aqidah
BAB III yaitu : Pembahasan yang meliputi Bagaimana cara membangun masyarakat salih serta Bagaimana tanda-tanda masyarakat salih.
BAB IV yaitu : Simpulan dan Rekomendasi








BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Definisi Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

2.2 Definisi Aqidah
Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-'aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminologi): 'akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi, Akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma' (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma' Salaf as-Shalih.














BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Cara Membangun Masyarakat Yang Salih
Membangun suatu masyarakat yang salih yaitu ada 3 hal yang menguatkan pembangunan ini di antaranya adalah :
3.1.1 Berkumpul Atas Dasar Aqidah
Ini sangatlah penting sekali untuk membangun suatu masyarakat yang salih, seperti yang telah di uraikan di bab sebelumnya bahwa aqidah adalah suatu keyakinan yang di pegang seseorang tanpa ada keraguan sedikit pun terhadap apa yang di yakininya, hal ini menjadi modal penting dalam membentuk suatu masyarakat yang salih, karena jika di setiap individunya sudah memiliki keyakinan yang mantap kepada allah swt maka kehidupan nya akan selalu damai baik bagi dirinya sendiri dan juga terhadap sesamanya, namun keyakinan yang mantap itu seperti apa, rajin dzikir kah, salat, zakat atau puas kah, ?
Semua itu memanglah baik, dan memliki dampak terhadap pengembangan keimanan kita dari ibadah-ibadah tersebut, dan yang lebih baik adalah mendapatkan ilmu dan bertemu dengan faktanya, maksud nya dapat mengaplikasikan ilmu agamanya di dalam kehidupannya, seperti seseorang yang ingin membuktikan bahwa rizki itu memang benar-benar sudah di tetapkan dan tanpa di ikhtiar pun tetap akan datang, yaitu seorang laki-laki yang berdiam diri di suatu goa tanpa memiliki perbekalan apapun di berdiam tanpa melakukan aktivitas apapun kecuali solat, setelah 3 hari lama nya si pria itu masih terdiam dengan lemasnya menanti pembuktian terhadap apa yang di yakininya, tak lama kemudian si pria itu terbaling kelelahan karena saking lapar dan hausnya berdiam diri di dalam gua, tak lama kemudian datang seorang pengembara yang melintas di depan gua itu dan melihat ke dalam gua terdapat seorang pemuda yang kelelahan dan dia pun segera memasuki dan menghampiri si pemuda itu lantas memberikan setetes air dari tongkatnya yang telah di celupkan kedalam air persediaannya.
Seperti itu lah maksud keyakinan yang mantap itu, keyakinan yang benar-benar  tidak dapat tergoyahkan lagi oleh hal apapun.


3.1.2  Penghargaan Amal Salih
Seperti firman allah swt dalam QS :   
“ Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. ”
Hubungan antara ayat ini dengan pembahasan makalah adalah kita lihat firman allah swt yang artinaya bahwa kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan dengan baik, maksud nya allah bayar amalan baik seseorang dengan pahala, menurut pemahaman kami allah benar-benar sangat adil bahkan sangat peduli terhadap mahluknya, tidak ada yang luput dari pandangannya,  terhadap siapa saja yang melakukan kebaikan,  allah ganjar dengan pahala yang setimpal siapa pun orangnya, mau pemabuk,pezina,ahli dzikir, dll.
Kaitannya dengan membangun masyarakat yang salih adalah kita sebagai mahluk yang pandai menghargai atau kita sanjung orang yang berbuat amal baik itu, tujuan nya agar orang tersebut ada keingin lagi untuk melakukan amal baik itu, allah swt saja mereward mahluk nya dengan pahala bahkan surga allah kasih, masa kita sebagai mahluk nya tidak bisa, akan alangkah lebih baik nya jika kita mengikuti orang yang kita reward itu.